Sekitar 3 tahun yang lalu, tepatnya waktu gue SMP kelas 1, gue tertarik sama seseorang, yang akhirnya gue beri nama samaran "Sinchan" karena alisnya.
Alisnya kenapa? Ya pikir aja sendiri.
Seperti biasa, gue selalu tertarik sama cowo-cowo konyol nan aneh, kadang mereka juga bisa disebut autis saking anehnya. Entah apa memang selera gue yang aneh atau guenya yang aneh.
Sinchan bukan tipe orang yang gaul, tapi bukan ansos juga. Orangnya biasa aja, pinter, dan konyol. Senyumnya manis, kulitnya agak tan tapi bukan item, orangnya lucu, tapi aneh.
Dia adalah satu-satunya cowo yang bisa memberikan gue kenangan-kenangan yang- hm- lucu, walaupun dia sendiri nggak sadar.
Bukan, Sinchan bukan pacar gue, bukan mantan gue. Dia hanyalah orang yang pernah gue sukai, dan rasa suka itu agak berbeda dibanding orang lain.
Kalau orang lain bilangnya mungkin- "sayang". Tapi gue nggak berani dan nggak yakin bahwa itu bisa disebut "sayang", karena jujur, gue sendiri belum ngerti apa yang disebut sayang, apalagi cinta. Yang jelas, gue tertarik sama dia, gue suka sama dia, tapi bukan hanya sebatas orang yang gue kagumi, bukan hanya sebatas teman yang lucu. Lebih, tapi bukan sayang, hanya menyukai, tapi mungkin lebih, dan mungkin juga tidak.
Bingung? Ya, gue pun begitu.
Gue selalu bertanya-tanya apa sebenarnya yang gue pikirkan terhadap dia. Sinchan ini siapa? Memangnya dia ini kenapa? Bisa-bisanya gue dibikin bingung sama seseorang, yang bahkan gue sendiri nggak begitu ngerti seluk beluk orang ini seperti apa.
Yang gue inget, dia adalah sosok yang pernah menyapa gue dikala gue sedang menunggu hujan deras untuk berhenti.
Yang gue inget, dia adalah orang yang tiba-tiba duduk di sebelah gue, dan dengan tawanya dia mengekspresikan imajinasinya kepada sebuah kertas yang tertera di meja.
Yang gue inget, dia adalah sosok yang membantu gue di saat gue bingung bagaimana caranya menggenggam tongkat untuk acara sekolah saat itu.
Yang gue inget, dia pernah meminta gue untuk menyanyikan sebuah lagu yang dia suka.
Yang gue inget, dia pernah tersenyum ke arah gue secara tiba-tiba, di mana saat itu, gue cuma bisa membalas dengan kata-kata singkat yang mungkin terdengar menyebalkan.
Dan yang gue inget, dia pernah mengalirkan air mata di depan gue, dan untuk kesekian kalinya, perasaan gue dibuat berayun tak keruan.
Sinchan bagaikan sesosok kereta dalam sebuah dunia peri yang terus membawa gue ke alam yang berwarna.
Sinchan selalu memberikan pelangi yang berwarna terang dan indah. Terkadang, hujan pun ia turunkan, tapi pelangi pasti akan selalu menyertai, dan menghapus hujan itu seketika.
Walaupun mungkin dia tidak sadar akan hal itu.
Banyak hal yang membuat gue terus terbayang oleh sikapnya, senyumnya, wajahnya, kata-katanya, caranya berbicara, tapi semua itu gue biarkan berlalu.
Walaupun Sinchan bukan orang yang sekarang terus menghantui pikiran gue, tapi gue akan selalu mengingat dia sebagai orang yang paling sering membawa gue terbang dan mengukir senyuman kecil tanpa gue sadari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar