Semenjak gue dilahirkan- atau normalnya sejak SD, gue selalu menyukai seseorang yang ada di kelas gue, atau seorang teman yang dulu sekelas. Pokoknya pernah sekelas, atau lagi sekelas.
Tapi baru-baru ini, gue dibuat terbelalak oleh salah seorang yang jauh dari jangkauan gue, di mana sampai saat ini pun, gue ngga pernah sama sekali ngobrol yang betul-betul ngobrol sama dia.
Gimana rasanya? Ya, biasa aja. Ngga begitu sedih, tapi juga ngga jadi gila karena senang orang yang disukai adalah orang yang jauh.
Karena kata "pacaran" masih jauh dari apa yang gue inginkan, dan bagi gue, kata itu tidak begitu dibutuhkan dalam kehidupan gue, saat ini.
Hanya terkadang, gue butuh untuk berbicara 4 mata sama dia.
Kalau ditanya kenapa gue suka sama dia, padahal dia adalah orang yang "jauh"?
Awalnya gue hanya mengagumi dia, karena dia orang yang sangat mahir bermain musik. Bahkan semenjak gue melihat dia, gue merasa terhina karena skill gue ngga sejago dia.
Parah.
Tapi semakin lama, gue semakin sering merhatiin dia. Dan ternyata, entah bagaimana akhirnya gue berkesimpulan bahwa dia memiliki interest yang sama dengan gue.
Hampir semuanya.
Mulai dari selera musik, selera humor, acara yang disukai, tokoh yang disukai, dan lain-lain.
Simpelnya:
Pernah ngga, kalian menemukan seseorang yang memiliki hobi yang sama, terus kalian pengen banget ngobrol dan sharing sama orang itu?
Itulah yang gue rasakan saat ini.
Semua hal yang setiap hari selalu hanya bisa gue bicarakan pada diri sendiri, dan akhirnya gue punya kesempatan untuk mengutarakan semua itu pada satu orang yang selalu gue perhatikan.
Tapi apa daya, gue ngga bisa dengan mudah menjangkau dia.
Bukan karena jarak fisik yang jauh, tapi karena suatu jarak abstrak antara gue dan dia yang jauh lebih sulit untuk diraih.