Minggu, 20 September 2015

Orang yang Jauh

Semenjak gue dilahirkan- atau normalnya sejak SD, gue selalu menyukai seseorang yang ada di kelas gue, atau seorang teman yang dulu sekelas. Pokoknya pernah sekelas, atau lagi sekelas.

Tapi baru-baru ini, gue dibuat terbelalak oleh salah seorang yang jauh dari jangkauan gue, di mana sampai saat ini pun, gue ngga pernah sama sekali ngobrol yang betul-betul ngobrol sama dia.

Gimana rasanya? Ya, biasa aja. Ngga begitu sedih, tapi juga ngga jadi gila karena senang orang yang disukai adalah orang yang jauh.

Karena kata "pacaran" masih jauh dari apa yang gue inginkan, dan bagi gue, kata itu tidak begitu dibutuhkan dalam kehidupan gue, saat ini.

Hanya terkadang, gue butuh untuk berbicara 4 mata sama dia.

Kalau ditanya kenapa gue suka sama dia, padahal dia adalah orang yang "jauh"?

Awalnya gue hanya mengagumi dia, karena dia orang yang sangat mahir bermain musik. Bahkan semenjak gue melihat dia, gue merasa terhina karena skill gue ngga sejago dia.

Parah.

Tapi semakin lama, gue semakin sering merhatiin dia. Dan ternyata, entah bagaimana akhirnya gue berkesimpulan bahwa dia memiliki interest yang sama dengan gue.

Hampir semuanya.

Mulai dari selera musik, selera humor, acara yang disukai, tokoh yang disukai, dan lain-lain.

Simpelnya:

Pernah ngga, kalian menemukan seseorang yang memiliki hobi yang sama, terus kalian pengen banget ngobrol dan sharing sama orang itu?

Itulah yang gue rasakan saat ini.

Semua hal yang setiap hari selalu hanya bisa gue bicarakan pada diri sendiri, dan akhirnya gue punya kesempatan untuk mengutarakan semua itu pada satu orang yang selalu gue perhatikan.

Tapi apa daya, gue ngga bisa dengan mudah menjangkau dia.

Bukan karena jarak fisik yang jauh, tapi karena suatu jarak abstrak antara gue dan dia yang jauh lebih sulit untuk diraih.

Sabtu, 05 September 2015

Tempe [ 4 ]

Gue pernah ngomong sama dia.

Dan itu menjadi hal yang sangat tidak terlupakan buat gue.

Anjaaayyy lebay.

Ngomongnya juga bukan kayak gimana, cuma hal sepele yang biasa disebut ngomong-pas-ada-keperluan.

Jadi waktu itu gue jadi salah satu panitia dalam suatu event sekolah yang mengharuskan gue untuk bawa satu kardus botol minuman bolak balik sampai pertandingan selesai.

Iya, gue panitia konsumsi.

Dan iya, satu kardus itu beratnya naudzubilah.

Apalagi buat ukuran gue yang diperkirakan bergender cewe.

Eh.

Terus karena guru gue kasian ngeliat gue (entah kasian atau ngga rela anak cupu kayak gue jadi panitia) akhirnya beliau bilang ke gue buat nyuruh anak-anak cowo bantuin gue.

Akhirnya yaudah gue melihat-lihat sekitar.

Dan orang pertama yang gue lihat adalah 2 orang anak bocah kelas 7 yang lagi planga plongo ngga tau mau ngapain.

Gue langsung bilang ke mereka,

"Eh kalian tolong bantuin dong"

Yang dijawab satu-satu sama mereka,

"Bantu apa ka?"
"Oh iya ka"

Terus gue menjawab pertanyaan dari salah satu anak kelas 7 itu,

"Bantuin bawa kerdus minuman"

Kemudian gue melihat di belakang 2 anak itu ada si Tempe lagi duduk sambil megang kotak P3K.

Tanpa basa basi gue langsung menjadikan kesempatan itu buat modus.

((OHOK))

"Eh kamu"

Kata gue, merasa keren sebagai kakak kelas.

Padahal muka gue waktu itu kayak cacing kepanasan.

Tempe pun akhirnya nengok dan berkata,

"Haaa?"

dengan wajah yang seolah minta ditonjok.

"Tolong bantuin bawa kardus ya"

kata gue.

Dia ngga jawab apa-apa lagi tapi masih nengok ke arah gue.

Gue curiga jangan-jangan dia ngga bisa mencerna apa yang gue maksud.

Akhirnya dia dan 2 bocah itu gue suruh gabung buat bawain kardus minuman.

Terus gue tunjukin tempat ngambilnya di mana.

Akhirnya mereka angkat satu-satu kardusnya. Dengan gagah mereka mengangkat kardus-kardus tersebut di depan gue, padahal dalam hati mereka berteriak,

"Wuanjir tangan wa nyaris copot wooyy!! Tolooonggg!!! Siapapun selamatkan guee!! Gue masih mau ketemu emak di rumaahhh!!!"

Dan dengan santainya si Tempe bilang ke temen-temennya,

"Waw ringan banget"

Gue

langsung

cengo.

Tulang seperti apa yang ada di dalam tangannya?

Apakah dia banyak makan kangkung?

Kemudian pada saat yang bersamaan temennya jawab,

"Jayus banget lu"

Oh

dia

lagi

ngejayus.

Ok.

Ada lagi waktu gue disuruh buat ngisi acara pensi sekolah, dan kebetulan guru seni gue nyuruh gue gabung sama kelompoknya si Tempe.

Gue waktu itu berdua sama temen gue.

Akhirnya kita disuruh menginformasikan hal itu ke Tempe, karena dia ditunjuk sebagai ketuanya.

Hm hebat.

Akhirnya gue berdua sama temen gue menuju ke kelasnya untuk menginformasikan hal tersebut.

Temen gue pun mengetuk pintu.

Terus pintunya dibuka sama salah seorang murid yang ada di sana.

Gue minta panggilin si Tempe.

Tempe dateng dan bertanya,

"Ada apa ka?"

Gue langsung pingsan dan akhirnya digotong ke UKS.

Tapi ternyata itu cuma imajinasi gue doang.

Gue dengan terbata-bata menjawab,

"Eeee...begini...kita mau ngasih tau...eee...kalau...kita.....kita....."

Kemudian kiamat datang.

Dan ternyata itu imajinasi gue lagi.

Gue akhirnya menjelaskan maksud kedatangan gue dan temen gue disini.

Terus gue bilang,

"Kalo misalnya ada keberatan atau keperluan apa nanti kasih tau aja"

"Kasih tau ke mana ka?"

"Punya line ga?"

"Punya tapi notifnya suka ngga ada"

"Kalo bbm?"

"Ada..."

"Yaudah nanti aku bbm kamu aja ya. Nanti aku tanya-tanya lagi"

"Oke ka"

Setelah itu dia menutup pintu dan kembali masuk ke kelas.

Terus gue baru sadar kalo percakapan terakhir itu terdengar ambigu.

Ha

Ha

Ha.